Halaman

Sabtu, 19 Maret 2011

Fase Keempat: Masa Remaja

Fase ini dimulai dari ketika anak genap berusia tujuh tahun hingga empat belas tahun. Di masa ini anak tengah mempersiapkan dirinya untuk menjadi manusia matang dan satu anggota dari masyarakatnya. Pada fase ini, anak mulai menghilangkan kebiasaannya meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa dan mulai memperhatikan alam dan lingkungan sekitarnya. Saat itulah daya pikir anak mulai terbuka dan mampu untuk berimajinasi dan menangkap banyak masalah yang tidak kasat mata.

Ia mulai berpikir tentang dirinya sendiri. Ia memandang dirinya sebagai salah satu mahluk yang hidup, berdiri sendiri, dan memiliki kehendak yang lain dari kehendak orang lain. Cara yang dilakukannya untuk menunjukkan keberadaan dirinya itu seringkali berupa perlawanan dan penentangan terhadap apa yang selama ini biasa ia lakukan. Ia berusaha untuk menampakkan jati dirinya dengan menentang dan membuat keluarganya marah demi menunjukkan kepada mereka bahwa ia adalah dirinya.[1] Anak seperti ini akan memilih jenis dan warna pakaiannya sendiri, ingin bebas menentukan pelajaran yang ia sukai, dan berhubungan dengan siapa pun yang ia sukai dan dengan cara semaunya.

Pada masa inilah orang tua harus memberikan perhatian ekstra terhadap pendidikannya karena kini ia tengah berada di awal hubungan sosialnya dalam lingkup yang lebih luas dengan masuknya ia ke sekolah. Sekolah sendiri berpotensi besar dalam membangun kepribadian anak dengan adanya banyak anak di sana yang masing-masing mempunyai tingkat kecerdasan dan kegesitan tersendiri.Anak akan tergugah untuk bersaing dengan mereka dan hal itu sangat berpengaruh pada karekternya.[2]

Beberapa faktor penting yang berkaitan dengan pembangunan karakter anak dalam fase ini antara lain adalah pola interaksinya dengan ayah, ibu, dan seluruh anggota keluarga yang lain, keadaan fisiknya, seperti tinggi dan berat badannya, serta hal-hal yang didengar dan dipelajarinya.

Kebutuhan anak di fase remaja ini berbeda dengan kebutuhannya di fase-fase sebelumnya. Hal ini harus diperhatikan oleh orang tua dan diusahakan untuk memenuhinya. Kebutuhan anak tersebut antara lain adalah sebagai berikut.
Kebutuhan primer, seperti makanan, minuman, dan pakaian.

2. Kebutuhan psikis, seperti ketenangan jiwa dan emosi.
3.Kebutuhan terhadap penerimaan dirinya oleh masyarakat.

4.Kebutuhan terhadap perhatian dan penghormatan atas dirinya.

5.Kebutuhan untuk mempelajari banyak hal yang dapat memupuk bakatnya sebagai bekal menempuh perjalanan panjang kehidupannya.

6.Kebutuhan untuk mengenal pemikiran-pemikiran yang menjadi wacana dalam masyarakat dan mengenal isi dunia, yang tentu saja, disesuaikan dengan kemampuan dan kematangan anak seusia ini.

Anak perlu mendapatkan perhatian yang ekstra ketat dalam melewati fase yang rentan ini, tetapi tentu saja dengan tetap memberinya kebebasan yang merupakan salah satu kebutuhan aslinya.

Rasulullah SAWW bersabda,

الولد سيّد سبع سنين وعبد سبع سنين ووزير سبع سنين

Artinya: Anak adalah tuan selama tujuh tahun, budak selama tujuh tahun, dan menteri selama tujuh tahun. [3]

Amirul Mukminin Ali a.s. berkata,

يرخى الصبي سبعا ويؤدب سبعا ويستخدم سبعا

Artinya: Anak dibiarkan melakukan apa saja selama tujuh tahun, dihukum jika melakukan kesalahan, dan diperbantukan selama tujuh tahun. [4]

Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata,

دع ابنك يلعب سبع سنين ويؤدب سبعا والزمه نفسك سبعا

Artinya: Biarkan anakmu bermain sepuasnya selama tujuh tahun, didiklah ia selama tujuh tahun, dan jangan pisahkan dirinya darimu selama tujuh tahun. [5]

Memang, mendidik anak di masa ini sangat sulit sehingga diperlukan usaha dan keuletan yang lebih besar dari orang tua dalam mendidik, menjaga dan mengontrol setiap gerak-gerik anak, termasuk pola berpikir, perasaan, dan pelajaran sekolahnya. Selain itu, ayah dan ibu harus memenuhi semua keperluannya yang beraneka ragam. Anak pada masa ini tengah membutuhkan pengarahan intensif dari orang tuanya, juga bimbingan mereka dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh tantangan dan liku-liku ini.

Berikut ini kami kemukakan beberapa hal penting yang berhubungan dengan pendidikan anak di fase ini.
1. Pendidikan Ekstra Ketat

Mendidik anak dengan baik dan benar dan mengajarinya budi pekerti yang luhur merupakan tugas dan tanggung jawab yang berada di pundak ayah dan ibu. Di lain pihak, adalah hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang benar tersebut. Pada fase ini, anak sangat memerlukan perhatian dan pengawasan ketat dari orang tuanya. Karena itu, orang tua harus meluangkan waktu dan tenaga yang lebih besar.

Imam Ali bin Al-Husain a.s. berkata,

وأمّا حقّ ولدك ... إنك مسؤول عمّا وليته من حسن الأدب و الدلالة على ربه والمعونة له على طاعته فيك وفي نفسه فمثاب على ذلك ومعاقبفاعمل في أمره عمل المتزين بحسن أثره عليه في عاجل الدنيا المعذر إلى ربه فيما بينك وبينه بحسن القيام عليه والأخذ له منه

Artinya: Hak anakmu adalah…engkau bertanggung jawab untuk mengajarkan kepadanya akhlaq karimah, mengenalkan kepada Tuhan dan membantunya untuk patuh kepadamu. Tugas berat ini besar sekali pahalanya dan sebaliknya, siksaan menunggu jika melalaikannya. Karena itu, lakukanlah apa yang bisa membuatmu berbangga atasnya di masa depan dan terbebas dari hukuman Tuhan atas tanggung jawab yang Dia berikan kepadamu, dengan mendidiknya secara baik dan benar.[6]

Karena fase ini merupakan fase yang sulit dalam kehidupan, ayah dan ibu harus mengangkat tangannya dan berdoa kepada Allah SWT agar mendapat taufik dalam mengemban tugas mulia dan besar ini.

Imam Ali bin Al-Husain a.s. mengatakan,

اللهم ومنّ عليّ ببقاء ولدي ... وربّ لي صغيرهم .. وأصحّ لي ابدانهم وأديانهم وأخلاقهم ... واجعلهم ابرارا اتقياء بصراء ... وأعني على تربيتهم وتأديبهم وبرهم ... واعذني وذريتي من الشيطان الرجيم

Artinya: Ya Allah lindungilah anak-anakku dan keturunanku....Didiklah mereka yang masih kecil.... Sehatkanlah badan mereka dan selamatkanlah agama dan akhlak mereka....Jadikanlah mereka orang-orang yang bertakwa dan berpengetahuan....Bantulah aku dalam mendidik mereka dengan benar....Lindungilah aku dan keturunanku dari godaan syetan yang terkutuk. [7]

Banyak riwayat yang menekankan kewajiban mendidik anak dengan baik dan menanamkan akhlak yang mulia kepadanya.

Rasulullah SAWW bersabda,

أكرموا أولادكم واحسنوا آدابهم

Artinya: Hormatilah anak-anak kalian dan perbaikilah perangainya.[8]

Imam Amirul Mukminin Ali a.s. berkata,

إن للولد على الوالد حقا , وإن للوالد على الولد حقا , فحق الوالد على الولد أن يطيعه في كل شيء , إلا في معصية الله سبحانه , وحق الولد على الوالد أن يحسن اسمه , ويحسن أدبه , ويعلمه القرآن

Artinya: Anak memiliki hak atas ayahnya dan ayah juga memiliki hak atas anaknya. Hak ayah atas anak adalah bahwa anak wajib untuk patuh dan taat kepadanya dalam setiap hal, kecuali yang berhubungan dengan maksiat. Hak anak atas ayahnya adalah ayah harus memberinya nama yang bagus, mendidiknya dengan baik, dan mengajarinya Al-Qur’an.[9]

Pendidikan di fase ini lebih penting pada fase-fase lainnya karena anak di usia ini relatif masih bersih dan belum tercemari sehingga mau mendengar dan menerima semua nasehat dan bimbingan. Karena itu, orang tua harus pandai-pandai mempergunakan kesempatan ini untuk mendidiknya dengan benar.

Dalam wasiatnya kepada putranya, Al-Hasan a.s., Imam Ali a.s. berkata,

... وإنما قلب الحدث كالأرض الخالية ما ألقي فيها من شيء قبلته فبادرتك بالأدب قبل أن يقسو قلبك , ويشتغل لبّك , لتستقبل بجد رأيك من الأمر ما قد كفاك أهل التجارب بغيته وتجربته ...

Artinya: …Sesungguhnya hati anak kecil bagaikan tanah kosong yang menerima apa saja yang dilemparkan kepadanya. Karena itu, aku cepat-cepat menyemaikan wasiatku ini kepadamu sebelum hatimu mengeras dan pikiranmu disibukkan oleh hal-hal lain agar engkau memanfaatkan pengalaman mereka yang berpengalaman dalam menentukan sikap dalam hidupmu. [10]

Beliau juga mengatakan,

علموا أنفسكم وأهليكم الخير وادبوهم

Artinya: Ajarilah diri dan keluargamu tentang kebajikan dan didiklah mereka dengan benar. [11]

Perlu dicatat, pendidikan yang ditekankan tidak lain adalah pendidikan dengan konsep Islami yang menjadikan masalah penghambaan kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya menjadi poros segala masalah kehidupan.

Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata,

اعملوا الخير وذكّروا به أهليكم وأدّبوهم على طاعة الله

Artinya: Berbuatlah kebajikan dan ajaklah keluargamu untuk melakukannya pula serta didiklah mereka untuk taat kepada Allah. [12]

Beliau juga berkata,

تأمرهم بما أمر الله به وتنهاهم عما نهاهم الله عنه ...

Artinya: Perintahkanlah mereka dengan hal-hal yang Allah perintahkan dan laranglah mereka melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah.[13]

Hadis ini menjadi pedoman umum dan menyeluruh; menjadi dasar metode pendidikan yang sehat di setiap segi kehidupan pribadi dan sosial serta pembentukan watak dan kejiwaan. Jika kedua orang tua mampu menerapkan metode pendidikan ini dengan tepat, dapat dipastikan bahwa si anak kelak akan menjadi anggota masyarakat yang baik.

Sejarah mencatat bahwa Ahlul Bait a.s. senantiasa menerapkan metode yang tepat dalam mendidik anak-anak mereka. Anak-anak mereka dipersiapkan dan dididik secara sempurna sehingga ketika dewasa mereka memiliki akhlak mulia serta menjadi teladan dalam segala hal.

Ali a.s., contohnya. Beliau melewati masa kecilnya di rumah Rasulullah SAWW semasa beliau belum dilantik sebagai nabi. Ketika Rasulullah berdakwah, Ali adalah orang yang pertama kali menyatakan keimanan. Keimanan beliau itu betul-betul tulus yang ditunjukkan dengan ketaatan mutlak terhadap Allah dan rasul-Nya.

Ketika dewasa, beliau menjadi teladan tanpa tanding dalam hal keberanian, pengorbanan, kedermawanan, kerendahhatian, kejujuran, dan seluruh keutamaan akhlak lainnya. Pada gilirannya, Imam Ali kemudian mendidik anak-anaknya dengan cara yang serupa sehingga mengantarkan mereka sampai ke puncak kesempurnaan akhlak. Demikian juga yang terjadi pada para imam berikutnya.

Beban yang dipikul oleh orang tua dalam mendidik anak akan makin berat seandainya masyarakat tempat mereka tinggal makin jauh dari Islam. Atau, bisa jadi secara realitas masyarakatnya beragama Islam, tetapi bentuk kehidupan yang Islami tidak termanifestasikan di dalamnya. Penyebabnya bermacam-macam, seperti pengaruh tradisi dan sikap konservatif, atau pengaruh kerancuan sistem pendidikan anak-anak, yang terutama, biasa kita dapatkan dari media massa seperti radio, televisi, film, dan lain-lain.

Perlu dicatat juga bahwa pendidikan jasmani anak termasuk ke dalam bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan jiwa, mental, dan kepribadian. Bahkan faktor ini bisa disebut sangat penting sehingga Rasulullah sendiri bersabda,

علموا أولادكم السباحة والرماية

Artinya: Ajarilah anakmu berenang dan memanah.[14]

Imam Musa Al-Kazhim a.s. memasukkan latihan anak-anak dalam mengerjakan hal-hal yang sulit sebagai hal yang dianjurkan. Beliau berkata,

تستحب عرامة الصبي في صغره ليكون حليما في كبره

Artinya : Sebaiknya, latihlah fisik anak semasa kecil supaya dia menjadi orang sabar ketika sudah besar.[15]

Di kalangan ilmuwan psikologi dan pendidikan sendiri sudah lama diketahui bahwa kesehatan badan sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa.[16]
2. Dorongan untuk Belajar

Pada fase ini, belajar adalah hal yang penting bagi anak-anak. Inilah saat yang tepat untuk memberikan dorongan belajar kepada mereka, mematangkan kekuatan akal, serta mewujudkan kecintaan hakiki mereka terhadap penguasaan ilmu.[17]

Pada masa ini, anak-anak memiliki potensi yang kuat untuk menghapal apapun yang sampai ke pendengarannya. Karena itu, proses belajar menjadi sangat penting untuk menanamkan berbagai pengetahuan dan membuatnya tetap melekat dalam ingatan anak. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAWW bersabda,

مثل الذي يتعلم في صغره كالنقش في الحجر

Artinya: Orang yang belajar di waktu kecil itu ibarat melukis di atas batu.[18]

Dalam kesempatan lain, beliau juga bersabda,

حفظ الغلام كالوسم على الحجر

Artinya: Memori anak-anak itu seperti tanda terpahat di batu.[19]

Demikian pentingnya pendidikan anak-anak sampai-sampai Rasulullah secara khusus berwasiat kepada para orang tua,

مروا أولادكم بطلب العلم

Artinya: Perintahlah anakmu untuk mencari ilmu.[20]

Bahkan, menurut Rasulullah, pengajaran anak-anak adalah salah satu pintu rahmat Allah bagi orang tua mereka. Beliau bersabda,

رحم الله عبدا أعان ولده على بره بالإحسان إليه , والتألف له وتعليمه وتأديبه

Artinya: Rahmat Allah semoga tercurah bagi seorang hamba yang menunjukkan kepada anaknya bagaimana cara berbuat baik kepada orang tua; yang mengajarkan kelembutan, pendidikan, dan sopan santun.[21]

Pendidikan adalah hak asasi seorang anak sebagaimana sabda Imam Ali Zainal Abidin a.s.,

... وأما حق الصغير فرحمته وتثقيفه وتعليمه ...

Artinya: Seorang anak memiliki hak untuk mendapatkan kasih sayang, pengenalan pada etika dan budaya, dan pengajaran.[22]

Berkaitan dengan hal ini juga, Rasulullah bersabda,

من حق الولد على والده ثلاثة : يحسن اسمه ويعلمه الكتابة , ويزوجه إذا بلغ

Artinya: Ada tiga hal yang termasuk ke dalam hak-hak anak yang harus ditunaikan orang tuanya, yaitu membaguskan namanya, mengajarinya penulisan, dan menikahkannya jika sudah dewasa.[23]

Dewasa ini, fungsi pengajaran baca tulis sudah dipegang oleh lembaga-lembaga pendidikan atau sekolah. Tetapi, itu tidaklah berarti bahwa peran orang tua tidak lagi diperlukan. Dalam kondisi seperti ini, harus ada kerja sama di antara orang tua dan sekolah.

Harus juga diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan di sini tentulah tidak sebatas pendidikan baca tulis. Segala hal yang memungkinkan untuk diajarkan kepada anak-anak, harus diajarkan. Jadi, pendidikan di sini meliputi seluruh bidang ilmu seperti kedokteran, humaniora, sastra, sejarah, filsafat, dan lain-lain. Yang juga tidak boleh dilupakan adalah pentingnya aspek pendidikan ruhani dan ibadah. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAWW bersabda tentang pentingnya pengajaran Al-Quran,

... ومن علمه القرآن دعي بالابوين فكسيا حلّتين تضيء من نورهما وجوه أهل الجنة

Artinya: Orang yang mengajarkan Al-Qur’an itu kelak akan dipanggil dari dua pintu. Dia akan mengenakan dua pakaian yang memancarkan dua cahaya. Dari kedua cahaya itu tampaklah wajah penghuni surga.[24]

Maksud dari pengajaran Al-Qur’an di sini adalah pengajaran yang komprehensif, dimulai dari pengajaran membaca secara benar sesuai dengan kaidah bahasanya. Berikutnya, si anak harus didorong untuk menghapal beberapa ayat dengan memperhatikan tingkat kemampuan akal seorang anak kecil. Setelah itu, mereka juga perlu diajari tafsir beberapa surat yang relevan dengan kebutuhan anak, terutama yang berkaitan dengan aqidah dan akhlak, atau juga hal-hal yang berhubungan dengan hukum-hukum syar’iy (ibadah dan muamalah).

Berikutnya, pada fase inilah si anak harus mulai diperkenalkan pada tata cara beribadah. Yang pertama kali harus diajarkan adalah tata cara wudhu dan shalat.

Imam Muhamad Al-Baqir a.s. berkata,

... حتى يتم له سبع سنين فإذا تم له سبع سنين قيل له اغسل وجهك وكفيك فإذا غسلهما قيل له صلّ ثم يترك , حتى يتم له تسع سنين , فإذا تمت له تسع سنين علّم الوضوء ...

Artinya: ...Ketika anak sudah berusia tujuh tahun, katakanlah kepadanya, ”Basuhlah wajah dan tanganmu!” Jika sudah dibasuh, katakanlah, “Shalatlah!” Kemudian biarkan mereka sampai usia sembilan tahun. Barulah pada saat itu mereka diajari wudhu secara benar....[25]

Anak-anak juga perlu diajari hadis sebagai langkah preventif terhadap pengaruh ajaran sesat. Imam Shadiq a.s. dalam hal ini berkata,

بادروا أولادكم بالحديث قبل أن يسبقكم إليه المرجئة

Artinya: Ajarilah anak-anakmu hadis sebelum mereka terpengaruh faham Murji’ah.[26]

Imam Hasan a.s. menjelaskan tentang hal-hal yang diterimanya sebagai ajaran dari Rasulullah SAWW dengan mengatakan,

علمني جدي رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم كلمات أقولهن في قنوت الوتر ... اللهم اهدني فيمن هديت وعافني فيم عافيت وتولني فيمن توليت

Artinya: Kakekku, Rasulullah SAWW mengajariku kata-kata yang kini biasa aku ucapkan tiap-tiap qunut witir “Allahummahdini fiman hadayta, wa ‘afini fiman ‘afayta, watawallani fiman tawallayta....“ [27]

Orang tua juga harus memperhatikan aspek pengajaran berbagai hal yang berguna bagi kehidupan anak-anak jika sudah dewasa kelak. Riwayat berikut ini menceritakan bagaimana Imam Ali a.s. mengajari anaknya, Imam Hasan a.s. berpidato.

يا بنيّ قم فأخطب حتى اسمع كلامك , قال : يا أبتاه كيف أخطب وأنا أنظر إلى وجهك استحيي منك

Artinya: (Imam Ali berkata), “Wahai anakku, bangunlah untuk berpidato biar aku dengar pidatomu!” Imam Hasan berkata, “Bagaimana mungkin aku berpidato di hadapanmu, wahai ayahku, pada saat aku sedang menatap wajahmu? Aku pasti malu” [28]

Kemudian diriwayatkan bahwa Imam Ali mengum-pulkan sanak-saudaranya supaya mereka bersama-sama mendengarkan pidato Imam Hasan.

Rasulullah juga memberikan dorongan kepada pendidik, orang tua, dan anak dalam kegiatan belajar-mengajar melalui sabdanya berikut ini.

إن المعلم إذا قال للصبي : بسم الله , كتب الله له وللصبي ولوالديه برائة من النار

Artinya: Jika seorang guru mengajarkan muridnya lafaz bismillah, Allah akan menetapkan ketentuan terbebas dari api neraka baginya, bagi si anak itu, serta bagi orang tuanya.[29]

Imam Ali a.s. pernah mendorong orang-orang agar mereka mengajari anak-anak tentang syair-syair Abu Thalib. Dirawayatkan bahwa Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. berkata,

كان أمير المؤمنين عليه السلام يعجبه أن يروي شعر أبي طالب وأن يدوّن , وقال : تعلموه وعلموه أولادكم فانه كان على دين الله وفيه علم كثير

Artinya: Dulu, Imam Ali a.s. sangat tertarik dengan puisi Abu Thalib serta susunannya. Beliau berkata, “Pelajarilah dan ajarkanlah buat anak-anakmu. Sesungguhnya beliau berada pada agama Allah dan memiliki ilmu yang amat banyak.” [30]

3. Melatih Anak untuk Patuh

Sikap patuh itu sebenarnya mudah dilakukan. Namun, untuk melaksanakannya sesuai dengan kemampuan, diperlukan latihan. Anak perlu bantuan khusus dari orang tua dalam hal melatih diri bersikap patuh sehingga berbagai macam kesulitan yang mungkin ada pada kepatuhan itu bisa diminimalisasi. Atau, lebih jauh lagi, si anak tidak merasa asing dengan kepatuhan dan mampu mengadaptasikannya dengan watak dan budi pekertinya sehingga kepatuhan itu menjadi kebiasaan sehari-hari. Diharapkan, kelak si anak akan melaksanakan berbagai macam bentuk kepatuhan dengan gembira, tanpa desakan, keterpaksaan, atau sikap malas.

Metode yang ditawarkan Islam dalam melatih kepatuhan anak sangat memperhatikan kemampuan akal dan fisik si anak. Sebagai contoh, dalam hal latihan melaksanakan shalat, Rasulullah SAWW bersabda,

مروا صبيانكم بالصلاة إذا بلغوا سبع سنين واضربوهم على تركها إذا بلغوا تسعا

Artinya: Biasakanlah anak-anak untuk shalat ketika usianya mencapai tujuh tahun. Jika sampai usia sembilan tahun si anak masih meninggalkan shalat, pukullah.[31]

Pada riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah bersabda,

مروا صبيانكم بالصلاة إذا بلغوا سبع سنين واضربوهم إذا كانوا أبناء تسع سنين

Artinya: Biasakanlah anak-anak untuk shalat kalau usianya mencapai tujuh tahun. Jika sampai usia sembilan tahun, pukullah.[32]

Memukul yang dimaksudkan dalam hadis ini bisa dalam pengertian yang sebenarnya, yaitu dalam bentuk pukulan fisik atau bisa juga berarti penunjukan sikap marah. Pukulan memang bisa berdampak negatif kepada anak. Akan tetapi, dampaknya itu akan segera hilang; dan itu artinya dampaknya ini sama sekali tidak berarti apa-apa jika dibandingkan kepentingan yang lebih besar yaitu pelatihan shalat.

Imam Ali a.s. bersabda,

أدّب صغار بيتك بلسانك على الصلاة والطهور , فإذا بلغوا عشر سنين فاضرب ولا تجاوز ثلاثا

Artinya: Perintahkan anak-anak di rumahmu untuk melakukan shalat dan bersuci. Jika (tidak mau sementara) usianya mencapai sepuluh, pukullah, tetapi jangan lebih dari tiga kali.[33]

Metode pelatihan shalat yang terbaik adalah dengan memperhatikan tingkat kemampuan anak-anak. Artinya, mereka jangan sampai dibebani porsi yang sangat berat karena itu akan menyebabkan ketidaksenangan terhadap shalat serta akan membangun dinding jiwa yang memisahkannya dengan shalat.

Diriwayatkan bahwa Imam Ali Zainal Abidin a.s. menyuruh anak-anak untuk melaksanakan shalat zuhur dan asar di satu waktu, demikian juga dengan shalat maghrib dan isya. Ketika hal tersebut ditanyakan kepadanya, beliau menjawab,

هو أخف عليهم وأجدر ان يسارعوا اليها ولا يضيعوها ولا يناموا عنها ولا يشتغلوا

Artinya: Yang demikian itu lebih ringan dan lebih baik bagi mereka sehingga mau segera melakukannya, tidak melalaikannya, tidak tidur, serta tidak sibuk mengerjakan yang lain.[34]

Imam kemudian berkata,

إذا أطاقوا فلا تؤخرونها عن المكتوبة

Artinya: Jika mereka mampu, jangan tunda-tunda (menyuruh mereka melakukan) kewajiban.[35]

Dengan demikian, waktu anak-anak itu tidak terambil kecuali untuk shalat-shalat yang diwajibkan. Pada tahap pertama, anak-anak hanya boleh dilatih untuk mengerjakan shalat-shalat wajib. Jika sudah terbiasa dan tumbuh rasa senang, seiring dengan pertambahan usia, mereka lama-kelamaan akan terbiasa pula mengerjakan yang shalat-shalat sunnah.

Berkaitan dengan ibadah puasa, anak-anak harus sudah dilatih mengerjakannya pada usia tujuh tahun. Ketika usia mereka bertambah, porsi latihan bisa ditambah dengan memperhatikan kesiapan mental dan batas kemampuan fisik. Imam Shadiq a.s. bersabda,

إنا نأمر صبياننا بالصيام إذا كانوا بني سبع سنين بما أطاقوا من صيام اليوم , فإن كان إلى نصف النهار أو أكثر من ذلك أو أقل , فإذا غلبهم العطش والغرث أفطروا حتى يتعودوا الصوم ويطيقوه فمروا صبيانكم إذا كانوا أبناء تسع سنين بما أطاقوا من صيام فإذا غلبهم العطش أفطروا

Artinya: Kami biasa melatih anak-anak berpuasa ketika usia mereka mencapai tujuh tahun yang disesuaikan dengan kemampuan, meskipun mereka hanya berpuasa setengah hari, kurang atau lebihnya. Jika mereka kehausan atau kelaparan, kami suruh mereka berbuka. Itu supaya mereka terbiasa dan kuat melakukan puasa. Karena itu, jika anak-anakmu mencapai usia sembilan tahun, suruhlah berlatih berpuasa. Jika kehausan, suruhlah berbuka! [36]

Diriwayatkan, seseorang pernah bertanya kepada Imam Shadiq a.s. mengenai kapan seorang anak itu mulai berpuasa. Imam menjawab,

أذا قوى على الصيام

Artinya: Kapan saja ketika dia dianggap kuat berpuasa.[37]

Jika seorang anak sudah melatih diri melakukan puasa pada usia-usia awal, bisa dipastikan bahwa dia tidak akan lagi menganggap puasa sebagai beban tugas yang memberatkannya.

Ada riwayat lain dari Muawiyah bin Wahab. Dia bertanya kepada Imam Shadiq a.s. tentang sejak kapan seorang anak laki-laki wajib melaksanakan puasa. Beliau menjawab,

ما بينه وبين خمس عشرة سنة وأربع عشرة سنة فإن هو صام قبل ذلك فدعه , ولقد صام ابني فلان قبل ذلك فتركته

Artinya: Jika usianya mencapai sekitar empat belas atau lima belas tahun. Jika dia sudah berpuasa sebelum usia-usia itu, biarkanlah! Anakku sendiri telah berpuasa sebelum usia itu, tapi aku biarkan.[38]

Jenis latihan ketaatan yang lainnya adalah berkenaan dengan ibadah haji. Di-sunnah-kan untuk melatih anak-anak melakukan ibadah ini. Diriwayatkan bahwa salah seorang Imam (mungkin Imam Shadiq atau Imam Baqir) berkata,

إذا حجّ الرجل بابنه وهو صغير فإنه يأمره أن يلبي ويفرض الحج فإن لم يحسن أن يلبي لبى عنه ويطاف به ويصلي عنه ... يذبح عن الصغار ويصوم الكبار ويتقى عليهم ما يتقى على المحرم من الثياب والطيب فإن قتل صيدا فعلى أبيه

Artinya: Jika seseorang melakukan ibadah haji sambil membawa anaknya, suruhlah juga anaknya itu untuk ber-talbiah (mengumandangkan lafaz labbbaik allahumma labbaik ...., pen.) dan mengerjakan rukun haji yang lainnya. Jika ternyata belum bisa, niatkanlah untuk ber-talbiah, ber-thawaf, dan shalat atas nama anaknya itu ... menyembelih hewan kurban buat anak-anak; yang dewasa harus berpuasa. Mereka juga harus menjaga diri dari segala hal yang terlarang bagi orang yang berihram seperti cara berpakaian dan penggunaan parfum. Jika anak-anak membunuh binatang buruan, dendanya ditanggung ayahnya.[39]

Berkaitan dengan latihan haji ini, ada yang mempertanyakan kesiapan fisik anak dalam berihram jika musim haji jatuh pada saat udara dingin. Imam Shadiq menjawab,

ائت بهم العرج فيحرموا منها ... فإن خفت عليهم فائت بهم الجحفة

Artinya: Bawalah mereka berihram di ‘Arj. Jika masih khawatir juga (dengan udara dingin), bawalah ke Juhfah.[40]

Beliau juga berkata,

انظروا من كان معكم من الصبيان فقدموه إلى الجحفة أو إلى بطن مرّ ويصنع ما يصنع بالمحرم ويطاف بهم ويرمى عنهم ومن لايجد منهم هديا فليصم عنه وليه

Artinya: Jika engkau membawa serta anak kecil ketika berihram, bawalah ke Juhfah atau ke tempat yang lebih rendah. Suruhlah mereka mengerjakan sebagaimana layaknya orang yang berihram. Ikutkan mereka dalam thawaf dan melempar jumrah. Jika mereka tidak punya uang untuk berkurban, walinya yang berpuasa buatnya.[41]

Dalam sebuah riwayat diceritakan kisah berikut ini.

وكان الإمام علي بن الحسين عليه السلام يضع السكين في يد الصبي ثم يقبض على يديه الرجل فيذبح

Artinya: Pernah Imam Ali bin Husein a.s. meletakkan pisau di tangan seorang anak kemudian tangan itu ditarik oleh seseorang untuk bersama-sama menyembelih hewan kurban.[42]

Cara melatih kepatuhan anak yang lain yang juga disunnahkan adalah dengan melatihnya berbuat kebajikan, seperti bersedekah kepada fakir miskin. Imam Ali Ar-Ridha a.s. bersabda,

مر الصبي فليتصدق بيده بالكسرة والقبضة والشيء وان قلّ , فإن كل شيء يراد به الله وان قلّ بعد أن تصدق النية فيه عظيم ...

Artinya: Latihlah anak-anakmu menyedekahkan uang logam atau kertas langsung tangannya, walaupun sedikit. Sesungguhnya segala sesuatu yang dikehendaki Allah, walaupun sedikit, akan sangat besar nilainya ketika sudah disedekahkan.[43]

Beliau juga berkata,

فمره أن يتصدق ولو بالكسرة من الخبز

Artinya: Latihlah anak-anakmu bersedekah walaupun dengan sepotong roti.[44]

Dampak positif lain dari latihan bersedekah adalah bahwa latihan ini bisa menjadi metode terbaik dalam mendidik mereka untuk tidak terikat kepada hal-hal yang duniawi. Rasa cinta kepada harta juga akan banyak tereduksi dari jiwa anak dan, tentu saja, hal ini juga akan menumbuhkan rasa empati kepada fakir miskin.

Tidak diragukan lagi bahwa latihan ibadah sejak kecil yang dilakukan oleh seorang anak akan menumbuhkan kebiasaan yang kelak akan dilakukan terus menerus olehnya ketika sudah dewasa. Bukti paling nyata adalah sejarah hidup Ahlul Bait a.s. Imam Hasan dulu diriwayatkan melakukan ibadah haji dengan berjalan kaki sebanyak dua puluh kali.

Demikian juga dengan Imam Husein. Karena kebiasaannya, yang beliau minta dari tentara Yazid di malam terakhir peristiwa Karbala adalah kesempatan bagi dia dan sahabatnya untuk menyepi. Maka ketika malam tiba, mereka terjaga sepanjang malam untuk melakukan shalat, beristighfar, bermunajat, dan berdoa.

Imam Ali bin Husein as. sampai diberi gelar Zainal Abidin (hiasan orang-orang yang beribadah) karena demikan banyaknya beliau beribadah. Sebuah riwayat mengatakan bahwa beliau itu tidak pernah meninggalkan shalat malam, pada waktu berperjalanan atau ada di rumah.

Demikian juga dengan imam-imam Ahlul Bait yang lain. Mereka menjadi teladan paling utama dalam hal hubungan dengan Allah dan keikhlasan beribadah. Itu semua tidak lepas dari proses pembiasaan yang mereka dapatkan semasa kecil. Dengan pembiasaan itulah mereka mereka akhirnya mendapatkan rasa senang dan punya dorongan untuk melakukannya.

Karena itu, orang tua harus selalu memberikan dorongan kepada anak-anak agar membiasakan diri taat menjalankan perintah agama dengan cara yang paling efektif, mungkin dengan pemberian perhatian, pujian, atau bisa juga dengan pemberian hadiah (bisa berupa materi atau spiritual).
4. Pengawasan Anak

Pada fase ini, keberhasilan pendidikan anak juga mensyaratkan adanya pengawasan orang tua terhadap mereka. Anak-anak perlu diarahkan kepada hal-hal yang benar dan baik. Mereka juga memerlukan pengawasan dalam hal cara berpikir, serta pengembangan imajinasi dan humanisme. Tentu saja, semua bentuk pengawasan itu harus dilakukan dengan dengan cara yang benar jangan sampai membebani si anak. Dalam waktu-waktu tertentu, sebaiknya orang tua melakukannya dengan cara seakan-akan dia adalah seorang kawan yang sedang mencoba membantu si anak dari kesulitan yang ia hadapi.

Pengawasan dalam hal pergaulan anak perlu lebih ditekankan dibandingkan dengan pengawasan di rumah. Orang tua harus memilihkan kawan-kawan bermainnya. Usahakan supaya kawan-kawannya itu hanyalah yang saleh-saleh.

Terkadang, penjelasan dan nasehat tidak begitu berguna. Untuk itu, pemberian hukuman bisa menjadi cara yang efektif. Mereka juga harus dilatih untuk introspeksi dan mau menerima koreksi. Lebih jauh lagi, harus tertanam di benak mereka konsep pengawasan yang dilakukan Allah. Konsep ini sangat efektif sebagai tameng yang akan mencegah anak dari penyelewengan walaupun pengawasan dari orang tua tidak ada.

Pada dasarnya, pengawasan adalah kewajiban ayah dan ibu. Mereka berdua memiliki porsi tugas yang disesuaikan dengan kemampuan dan pengalaman hidup. Karenanya, mereka berdua harus saling membantu. Akan tetapi, karena biasanya ayah lebih sering berada di luar rumah, porsi tugas pengawasan seorang ibu terhadap anaknya (baik anaknya itu laki-laki ataupun perempuan) terkadang menjadi lebih besar.

Hal penting lain yang harus diperhatikan adalah bahwa jangan sampai si anak merasa tidak diacuhkan oleh orang tuanya. Kondisi pengawasan melekat harus selalu terjaga. Orang tua terkadang bisa meminta bantuan pihak-pihak lain untuk ikut mengawasi anaknya terutama dalam situasi yang di sana orang tua tidak bisa melakukannya. Dalam hal ini, mereka bisa memberikan kepercayaan kepada famili dan kawan terdekat. Demikian juga, sekolah-sekolah dan institusi tempat si anak beraktivitas sosial memiliki peran pengawasan yang sangat besar dalam pendidikan si anak agar ia tidak terjerumus ke dalam penyimpangan perilaku.
5. Pencegahan atas Perilaku Asusila

Perilaku asusila termasuk di antara perilaku yang sangat berbahaya yang mengakibatkan berbagai krisis sosial. Karena itu, Islam sangat memperhatikan masalah ini secara khusus dengan mengajarkan cara-cara pencegahan dan terapi seandainya perilaku itu sudah terbentuk. Di sinilah tanggung jawab dan peran orang tua harus dijalankan dengan sungguh-sungguh karena pendidikan dalam rangka menghasilkan kesucian jiwa dan kesalehan anak-anak adalah tugas terpenting mereka. Rasulullah SAWW bersabda,

من حق الولد على والده أن يحسن اسمه إذا ولد وأن يعلمه الكتابة إذا كبر , وأن يعفّ فرجه إذا أدرك

Artinya: Hal-hal berikut ini adalah termasuk hak yang dimiliki seorang anak atas ayahnya, yaitu bahwa ayahnya memberinya nama yang bagus ketika lahir, mengajarkan kepadanya baca tulis ketika beranjak besar, serta menyucikan kehormatannya dari perilaku asusila ketika sudah mengenal (masalah seksual--pen.)[45]

Pendidikan yang berkaitan dengan penjagaan kesucian ini dilakukan dengan melakukan langkah-langkah pencegahan atas gejala asusila. Langkah-langkah ini harus dimulai sejak si anak belum mencapai usia baligh.

Langkah pertama adalah menjauhkan anak-anak dari segala sesuatu yang bisa mengobarkan hasrat seksual. Mereka juga harus dijauhkan dari pengetahuan yang merangsang imajinasi. Rasulullah bersabda,

والذي نفسي بيده لو أنّ رجلا غشي أمرأته , وفي البيت صبي مستيقظ يراهما ويسمع كلامهما ونفسهما ما أفلح أبدا , ان كان غلاما كان زانيا , أو جارية كانت زانية

Artinya: Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika seseorang menggauli istrinya sementara di rumahnya ada seorang anak yang terjaga, kemudian si anak melihat serta mendengar kata-kata dan tarikan nafas mereka berdua, si anak tidak akan bahagia seumur hidup! Anak itu, baik laki-laki maupun perempuan, pasti akan menjadi pezina.[46]

Langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah adalah dengan memisahkan tempat tidur anak-anak. Imam Ali a.s. berkata,

... وفرّقوا بينهم في المضاجع إذا كانوا ابناء عشر سنين

Artinya: Kalau anak-anakmu itu sudah mencapai usia sepuluh tahun, pisahkanlah tempat tidur mereka.[47]

Imam Baqir a.s. berkata,

يفرّق بين الغلمان والنساء في المضاجع إذا بلغوا عشر سنين

Artinya: Seandainya anak-anak sudah berusia sepuluh tahun, tempat tidur anak laki-laki harus dipisahkan dari tempat tidur anak perempuan.

Rasulullah SAWW juga bersabda,

الصبي والصبي , والصبي والصبية , والصبية والصبية يفرّق بينهم في المضاجع لعشر سنين

Artinya: Ketika sudah mencapai usia sepuluh tahun, pisahkan tempat tidur anak-anak, baik antara anak laki-laki, laki-laki dan perempuan, ataupun antara anak-anak perempuan.[48]

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Ja’far Shadiq a.s. melarang laki-laki untuk mendekati seorang anak perempuan telah berusia enam tahun, bila ia bukan muhrimnya. Beliau berkata,

إذا أتى عليها ست سنين فلا تضعها على حجرك

Artinya: Jika anak perempuan sudah mencapai usia enam tahun, jangan biarkan ia di dalam kamarmu.[49]

Beliau juga melarang untuk menciumnya. Beliau berkata,

إذا بلغت الجارية الحرّة ست سنين فلا ينبغي لك أن تقبلها

Artinya: Jika ada seorang anak perempuan yang telah mencapai usia enam tahun, janganlah engkau menciuminya! [50]

Tentu saja, yang dimaksud di sini adalah larangan ciuman dari orang-orang lain, bukan dari keluarga sendiri seperti ayah, ibu, paman, dan semua famili yang termasuk ke dalam muhrim. Karena itu, larangan ini juga berlaku buat anak laki-laki. Dalam hal ini Rasulullah bersabda,

... والغلام لا يقبّل المرأة إذا جاز سبع سنين

Artinya: Jika seorang anak laki-laki telah berusia tujuh tahun, jangan biarkan ia mencium perempuan.[51]

Jika perilaku tindakan asusila ini telah terjadi, orang tua bisa saja menjatuhkan hukuman sampai batas yang kira-kira membuat si anak jera dan tidak mengulanginya. Imam Shadiq pernah ditanya tentang hukuman apa yang harus diberikan kepada seorang anak kecil berusia sepuluh tahun yang berzina dengan seorang perempuan, beliau menjawab,

يجلد الغلام دون الحدّ

Artinya: Anak itu harus dicambuk dibawah had (tidak sampai batas hukuman sebagaimana bagi orang dewasa-- pen.).[52]

Kita juga harus betul-betul mengawasi anak-anak terhadap segala hal yang memungkinkan terciptanya gejolak jiwa. Dewasa ini, hal-hal tersebut akan sangat mungkin terjadi karena mereka dikepung dengan aneka cerita, gambar, film, dan segala hal yang berpotensi merusak kesucian jiwa. Karena itu, sebagai bentuk pencegahan atas kemungkinan terjadinya perilaku asusila, kita harus mengawasi mereka manakala sendirian ataupun ketika mereka bersama orang lain.
6. Menciptakan Hubungan dengan Teladan yang Baik

Di akhir periode ini, anak-anak akan punya kecenderungan yang sangat kuat untuk meniru apapun yang ada pada diri kebanyakan orang terutama mereka yang menjadi lingkungan baginya. Para psikolog menamai sebuah gejala kejiwaan dari seorang anak pada usia ini yang selalu ingin meniru orang lain secara fisik dengan istilah “peniruan”. Keinginan ini sangat cepat timbulnya dan akan cepat juga berhenti ketika sumber peniruan itu tidak ada.

Ada pula jenis peniruan yang bersifat nonfisik. Prosesnya berlangsung perlahan tetapi pengaruhnya sangat kuat menempel pada akal dan jiwa.[53] Contoh konkretnya adalah perilaku taqlid (patuh) dan peneladanan kepada pribadi-pribadi agung. Kepribadian mereka akan sangat kuat mempengaruhi anak-anak muda. Anak-anak muda mempunyai kecenderungan untuk merasa tertarik, meneladani dan menghormati orang-orang yang mulia, yang memiliki sifat-sifat keteladanan, dan yang memiliki pengaruh kuat pada masyarakat, seperti para pejabat, tokoh, para juara, orang-orang sukses, serta guru sekolah dan ustadz madrasah.[54]

Para psikolog berpendapat bahwa pada dalam diri setiap manusia terdapat kebutuhan untuk memiliki idola.[55] Kebutuhan ini sangat signifikan. Dalam pandangan para psikolog itu, kepribadian ideal yang menjadi idola bagi tiap manusia itu akan sangat bermacam-macam dan bergantung kepada berbagai faktor, seperti fisik, kejiwaan, dan sosial. Idola itu sangat mungkin kemudian akan diejawantahkan dalam paradigma dan cita-cita hidupnya.

Dalam pengertian seperti ini, tentulah idola akan menjadi faktor yang sangat penting bagi manusia, terutama anak-anak yang berada pada akhir-akhir fase remaja ini. Satu hal yang perlu ditekankan adalah bahwa idola ini, meskipun tidak beranjak dari sekedar konsep, tidak menemui realitasnya, atau tidak sampai membentuk paradigma serta cita-cita hidup, ia akan tetap tinggal dalam benak. Karena itu, si anak tetap memerlukan contoh dan teladan dalam kehidupannya. Dalam hal ini, idola terbaik tentulah pribadi-pribadi agung yang bisa mereka dapatkan dalam diri orang-orang terdahulu.[56]

Mereka adalah para nabi, Ahlul Bait Rasulullah, sahabat dan tabi’in yang shalih, serta para ulama terdahulu. Merekalah teladan dalam berbagai keutamaan sifat serta kehormatan jiwa. Salah satu bukti nilai keteladanan yang mereka miliki adalah bahwa eksistensi mereka telah banyak mempengaruhi berbagai lapisan masyarakat sepanjang sejarah, sampai-sampai keberadaan mereka itu sedemikian diagungkan dan disucikan.

Kehidupan orang-orang saleh itu penuh dengan nilai-nilai kebajikan yang sangat diperlukan manusia sebagai pegangan. Peneladanan anak-anak kepada mereka inilah yang akan membentuk kepribadian mulia, mengikuti apa yang mereka teladani. Jika mereka sampai kehilangan teladan, elan vital mereka akan membeku, semangat mengendur, dan mungkin saja keperluan meneladani ini akan mereka alihkan kepada pribadi-pribadi awam di lingkungan sekitarnya.

Oleh sebab itu, orang tua berkewajiban untuk mengarahkan pandangan, pikiran, dan kecenderungan anak-anak ke arah pribadi-pribadi teladan sejak Nabi Adam a.s. hingga orang-orang mulia zaman sekarang. Pada diri mereka terdapat teladan-teladan yang secara historis memiliki konteks yang khas, tetapi semuanya mengandung nilai kemuliaan, kebajikan, dan kepemimpinan dalam hidup.

Keteladanan yang suci tersebut memiliki pengaruh dan tempat yang mulia di seluruh sudut kehidupan anak-anak. Dampak dari peneladanan itu akan termanifestasikan dalam kepribadian, mental, logika, dan paradigma hidup mereka. Pada gilirannya, hal ini akan mendorong si anak untuk mencapai posisi tinggi sebagaimana yang telah dicapai oleh orang-orang saleh yang mereka teladani.

[1] Hadits ila Al-Ummahat:207

[2] ‘Ilm Al-Nafs:385

[3] Makarim Al-Akhlaq:222

[4]Ibid:223

[5]Ibid:222

[6]Tuhaf Al-‘Uqul:189

[7]Al-Shahifah Al-Sajjadiyyah Al-Jami’ah:128-129

[8]Mustadrak Al-Wasail 2:625

[9]Nahj Al-Balaghah, dengan catatan kaki Dr. Subhi Shaleh:546

[10]Nahj Al-Balaghah:393

[11]Kanz Al-‘Ummal 2:539, hadis ke-4675

[12]Mustadrak Al-Wasail 2:362

[13]Bihar Al-Anwar 100:74

[14]Al-Kafi 6: 46

[15]Ibid:51

[16]Jamil Shulaiba, Ilmu Al-Nafs:383

[17]Hadits ila Ummahat: 217

[18]Kanzul ‘Umal 10:294, hadis 29336

[19]Ibid:238, hadis 29258

[20]Ibid:854, hadis 45953

[21]Mustadrak Al- Wasail 2:626

[22]Tuhaf Al-Uqul:193

[23]Makarim Al-Akhlaq:220

[24]Al-Kafi 2:49

[25]Man Laa Yahdhuruhu Al -Faqih 1: 182

[26]Al –Kafi 2:47

[27]Mukhtasar Tarikh Dimasyq 7:5

[28]Bihar Al-Anwar 43:351

[29]Mustadrak Al-Wasail 2:625

[30]Ibid

[31]Ibid 2:624

[32]Bihar Al-Anwar 101:98

[33]Tanbih Al-Khawatir:390

[34]Mustadrak Al-Wasail 2:624

[35]Ibid

[36]Al-Kafi 4:124

[37]Ibid 4:125

[38]Ibid

[39]Ibid 4:303

[40]Ibid 4:304

[41]Ibid

[42]Ibid

[43]Al-Wasail 9:376

[44]Ibid

[45]Mustadrak Al-Wasail 2:626

[46]Wasail Al-Syiah 20:133

[47]Mustadrak Al-Wasail 2:558

[48]Wasail Al-Syiah 20:231

[49]Ibid 20:229

[50]Ibid 20: 230

[51]Ibid 20:230

[52]Makarim Al-Akhlaq: 320

[53]‘Ilm Al-Ijtima’iy: 86

[54]Ibid: 140

[55]Jamil Shaliba, ‘Ilm An-Nafs : 728

[56]Ilm Al-Ijtima’: 146

Tidak ada komentar: